Lompat ke konten

RSP Sensei

Perbedaan bahasa Indonesia dan bahasa Jepang

Konnichiwa minna,
  Bahasa Indonesia adalah “notasi alfabet”, dan jika Anda melakukan “pembacaan romaji” dasar, Anda dapat memahaminya, tetapi alfabetnya bukan bacaan bahasa Inggris. Baca sebagai berikut.

 

Kata-kata bahasa Indonesia “R” dan “L” diromanisasi menjadi “el”, tetapi “R” diucapkan dengan lidah keriting. Misalnya, “lupa” dan “rupa” sama-sama “rupa” dalam bacaan romaji, tetapi pengucapan keduanya berbeda.

Akan tetapi, bahasa Indonesia tidak memiliki “nada” (pitch) bahasa Mandarin, sehingga pengucapan lainnya dapat dibaca dalam huruf Romawi, sehingga dikatakan relatif mudah untuk dikuasai.

Arti dari bahasa Indonesia berubah dengan “infleksi”

Dalam bahasa Indonesia, makna berubah dengan menambahkan berbagai “awalan” dan “akhiran” pada “batang” sebuah kata.

Contoh: “jalan” (jalan) → “ber jalan ” (berjalan)
    * Kata dasar “jalan” dengan awalan “ber” ditambah
  ”jalan” (jalan) → “per jalan an” (perjalanan)
    * batang “Jalan” dengan awalan “per” dan akhiran “an”
  ”jalan” (road) → “men jalan kan” (execute)
    * Kata dasar “jalan” diawali dengan “men” Dan bentuk dengan akhiran “kan”

Dengan cara ini, kata “jalan” berubah menjadi berbagai kata. Saya tidak dapat menemukannya dengan mencari “perjalanan” di kamus. Jika Anda tidak mengenali bahwa batangnya adalah “jalan”, Anda tidak akan dapat mencari arti kata tersebut.

Bahasa Indonesia tidak diubah dengan “tegang”

Bahasa Indonesia tidak memiliki tata bahasa, jadi ketika kita menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan, kita menambahkan kata waktu.
Di masa lalu, tambahkan “sudah” (sudah) dan “kemarin” (kemarin) Di
masa depan, tambahkan “akan” (mungkin, bahasa Inggris “akan”) dan “besok” (besok)

Bahasa Indonesia mirip dengan Bahasa Melayu

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang berasal dari bahasa Melayu, sehingga sangat mirip. Kata-kata yang digunakan mungkin sedikit berbeda atau pengucapannya mungkin berbeda, tetapi perbedaannya tidak terlalu besar sehingga orang Indonesia dan Malaysia tidak memiliki masalah dalam komunikasi.

*Perbedaan dari Jepang

Saya menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan benar

Bahasa resmi Indonesia adalah bahasa Indonesia, tetapi Indonesia adalah negara multi-etnis dan saat ini berbicara lebih dari 500 bahasa. Banyak orang berbicara baik bahasa nasional Indonesia maupun bahasa daerah. Saya berbicara bahasa lokal dalam kehidupan sehari-hari (keluarga) dan bahasa Indonesia dalam kehidupan sosial saya seperti pekerjaan.

Ulangi kata tersebut saat mengungkapkan “jamak”

Bahasa Indonesia tidak memiliki bentuk jamak. Saat mengungkapkan bentuk jamak, kata tersebut pada dasarnya diulang dua kali.

  ”Buku” (satu buku) → “buku-buku” (banyak buku)
  ”orang” (satu orang) → “orang-orang” (beberapa orang)

Kata-kata sering diakhiri dengan “Nya”

Dalam bahasa Indonesia, kata (kata benda, kata kerja, kata sifat, dll) diakhiri dengan “Nya”. Arti dari “nya” berbeda-beda tergantung pada kata mana yang diikuti oleh “nya”. Misalnya, katakan ini.

“Makanan” (makanan) → “Makanan nya ” (makanannya)
* “Nya” ditambahkan di akhir kata yang berarti “itu”
“Saya minum kopi itu” → “Saya (saya) minum (minum) kopinya ” (Kopi itu) “
*” kopi (kopi) “menjadi” kopinya (kopi itu) “
” Mobil “(mobil) →” Mobil nya “(mobilnya)
*” Nya “di akhir kata artinya” nya ” Terpasang

Ketika “Nya” ditambahkan ke akhir kata, rasanya seperti “sesuatu yang lucu” bagi orang Jepang.

Kata dapat diubah menjadi ekspresi yang disingkat.

Dalam bahasa Indonesia, “prefix/suffix” ditambahkan sebelum dan sesudah sebuah kata, sehingga satu kata cenderung panjang. Berbagai singkatan digunakan saat berkomunikasi dengan aplikasi perpesanan. Jika Anda tidak terbiasa, ini mungkin terlihat seperti “enkripsi”.

Contoh: “orang-orang” → “orang2”
“Surat Izin Mengemudi” → “SIM”

*Perbedaan kebiasaan berbisnis antara Jepang dan Indonesia

Orang Indonesia mengikuti kebiasaan “Islam”

Sebagian besar masyarakat Indonesia (80-90%) beragama Islam. Oleh karena itu, perlu memahami adat istiadat Islam. Misalnya, ada periode puasa (sekitar satu bulan) yang disebut “Ramadhan” setiap tahun. Selama periode ini, tidak ada makanan atau air yang dikonsumsi di siang hari. Ketika Ramadhan berakhir, kita akan memiliki liburan selama seminggu. Harap dicatat bahwa operasi bisnis mungkin tertunda selama periode ini.

Muslim tidak minum alkohol. Karena itu, tidak seperti orang Jepang, tidak ada kebiasaan berkomunikasi di pesta minum. Juga, Muslim tidak makan makanan tertentu seperti babi. Tidak masalah jika restoran tersebut bersertifikat “HALAL”, tetapi Anda perlu berhati-hati saat menjamu di restoran Jepang dan oleh-oleh dari Jepang.

Ada sedikit lembur di Indonesia

Hampir tidak ada lembur kecuali di industri jasa seperti toko-toko yang buka sampai larut malam. Seorang warga negara Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan Jepang mengatakan bahwa sulit untuk terus bekerja karena ia memiliki banyak pekerjaan lembur dan hari libur serta tidak dapat memiliki waktu pribadi.

Indonesia memiliki disparitas yang besar antara kota besar dan pedesaan

Indonesia memiliki disparitas yang besar antara kota dan wilayah. Ada banyak bank dan ATM di ibu kota dan kota-kota besar, dan telepon pintar cukup populer, dan pembayaran seluler di taksi dan toko juga besar, tetapi tidak begitu populer di daerah pedesaan.